Postingan

kupu-kupu

Aku ingin Sayap yang berwarna-warni Mengepak tinggi Mengelana bunga Tapi Aku tahu.. detik ini Aku masih seekor ulat

berharga

Aku tidak pernah, semanusia ini.. Ada yang mengajakku berbicara Ada yang menyuruhku melakukan sesuatu Kukira kita adalah gerbang dunia lain Engkau melepas semua jerihku Aku giat bertata krama denganmu Lebih sering saat aku memutuskan memperbanyak menyulitkanmu Terkadang, senyumnya menggantung Terkadang, alisnya melengkung tajam Tapi paling sering, kau menatapku sepi Aku tegas menduga kau pembenci merah muda Engkau jelas menyela, aku adalah spesies yang tak pernah ada Lekas aku menjaga Lekas kau berlari Sedangkan… Disini masih sepi Tetapi waktu, mendetakkan detik terlalu cepat Aku harap tidak segera malam Tidak, saat ini…

Aku Tahu, Untuk Yang Memanggilmu Penyendiri

Aku tahu, engkau menyimpan sedikit luka yang selalu kau coba umpamakan. Lalu, bersembunyi dari keramaian untuk bertemu dengan hujan yang membasahi kedua pipimu. Aku tahu, senyum itu sangat sulit engkau tampakkan tetapi engkau coba lakukan untuk pertahanan terhadap sesuatu. Terlantar atau dilantarkan hanyalah istilah tak penting untuk menjelaskan keberadaanmu pada satu sudut dimana tak ada satupun yang mengindahkan. Kemudian, engkau berkelana sendiri mencari debu yang mampu menggantungkan lengkung indah pada bibirmu yang tak dimudahkan untuk bertutur. Kemudian, engkau tertawa sendiri menatap dua orang bocah yang sedang terbahak mengayuh sepedanya. Kemudian, engkau menangis sendiri saat ada seseorang menepuk pundakmu dan berkata “apa kabar?” Aku tahu, engkau menunggu di depan. Menatap orang berlalu lalang hanya untuk menanti satu orang diantaranya menoleh kemudian tersenyum padamu. Engkau hanya mampu berharap pada goresan-goresan kecil pada sebatang pohon. Atau pada setu...

hope behind the rain

Bagaimana aku melukiskannya. Sekarang, adalah musim penghujan yang mampu mendinginkan bumi Lampung. Engkau terlihat lebih sering memandangnya di balik tirai jendela. Aku tidak mengerti caranya menenangkanmu. Atau sekedar memulai interaksi denganmu, takut salah, takut tidak benar, taku menyakiti. Tentunya, karena aku menyayangimu. Dua tahun berlalu Hampir setiap detik aku melaluinya bersamamu melewati tenteram bahkan, repot. Tak jarang, memarahiku, menyuruhku pergi namun kemudian engkau memelukku, merasa begitu berat beban hidupmu. Aku tidak pernah menganggapmu lemah. Tapi, Kali ini, Tuhan. Kadang aku berharap diberikan kesempatan terlahir kembali sebagai seseorang yang mampu membaca pikirannya, mengetahui seluk beluk isi hatinya. Aku tidak pernah sekeras ini memandang remeh diriku. Aku paham benar rasanya kesepian, yang sangat membunuhku.. di saat semua orang pergi meninggalkan hidupku, melalaikan satu kebahagiaan dari seseorang sepertiku tapi rasanya aku terlalu melanko...

desakan 19

Ini, malam-malam terakhir di 19. Sebenarnya aku bukan tipe orang yang sangat menspesialkan –hari ulangtahun- namun, entah mengapa ingin kutulis sedikit sebagai perwujudan ekpresi pada Yang Maha Menciptakan. Baiklah.. “terimakasih 19, engkau mengajariku beberapa bahagia dan luka kebanyakan.” Aku jadi sedikit mengingat doa kejiku dahulu.. “ya Rabb, beri usiaku hingga 19 saja karna aku tahu dan sudah sangat paham dengan pedihnya ataupun lukanya, jangan tambahkan lagi sesuatu yang akan membuatku terus menangis..” Yap, itu doa labil dari seorang gadis SMP yang sudah sangat paham benar sakit, terjatuh, dan banyak menangis. Hingga tiba di usia-usia selanjutnya dimana kutemukan teman, kutemukan keluarga, dan.. dia Aku mulai merevisi doaku Ya Rabb, tambahkan usiaku, aku ingin membahagiakan mereka dahulu. Kupikir, kehilangan mereka adalah hal yang paling membunuhku. Tapi ternyata, melihat mereka tak bahagia karenaku bisa lebih membunuh. Pelan tapi pasti, aku dipilihkan untuk berjalan sendiri. Sa...

P.E.R.N.A.H

Hari ini lalu lintas mahasiswa melewati sekre Hima begitu ramai, sedari tadi jalanan sudah begitu bising dengan suara klakson. Hari ini, FMIPA begitu ramai. Aku suka pemandangan Jumat dengan nuansa putih, dengan kerudung yang dilebarkan, nuansa bersih dan juga ramah tamah penghuninya. Hari ini, matahari sebegitu perkasanya untuk menyombongkan diri. Terik yang dipancarkan sudah sangat berhasil membuat daun menguning. Sayang, beberapa pohon harus di tebang. Aku harus menahan diri untuk menyaksikan romantisnya sinar matahari yang mengintip di balik rindangnya pohon-pohon itu. Tumben hari ini tidak gerimis. Hari ini, aku sibuk dengan “ketenangan” melangkahkan kaki pada dua sekre yang sama-sama menempatkanku pada sebuah biro penulisan. Lagi-lagi aku duduk termangu di antara beberapa orang yang kelimpungan mencari celah menikmati hari yang cerah. Aku malah duduk di depan Sekre, memandang kaku sebuah tiang penyangga atap. Kuperhatikan dengan seksama. Strukturnya merapuh, dan… kupandangi sebu...

24 September 2014

“Ah, Lampung.. kenapa selalu seterik ini?” ocehanku pada siang hari yang begitu panas. Hari ini jadwal kuliah kosong mendadak setelah bapak dosen menyatakan kesibukannya dan menunda perkuliahan. Segera ku ambil handphone dan mengirim pesan singkat pada mas yanto “mas, jemput sekarang ya, biasa.. sekret” selang beberapa menit kemudian dia membalas “maaf neng, gabisa”. Kulihat uang di tas, tidak ada sepeserpun. Aku bergegas mencari Nila,nihil. Ini dia, Elsa, akhirnya Rp 10.000 kudapat darinya bekal pulang. Nila dan Elsa adalah teman karibku. Mereka biasa kucari, walau mereka tak pernah mencariku. Kelimpungan aku kalau di kampus. Jawab seabrek pertanyaan tentang “teteh, kok sendiri???” beberapa saja yang masih bisa kumintai pertolongan, itupun kalau mereka nggak sibuk. Nggak papa sih, wajar aja.. siapa aku??? Hehe, kasian. Padahal siang itu terasa begitu lapar, begitu inginnya aku makan. Hmm, tapi… lupakanlah, aku harus pulang. Aku sedikit benci pada musik angkot di tengah teriknya Lam...